BANDAR LAMPUNG – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kota Bandar Lampung lebih dari satu jam, Sabtu (29/12/2019), menyebabkan banjir di 19 titik. Sungai dan drainase di Kota Tapis Berseri tidak mampu menampung air menyebabkan sejumlah ruas jalan dan pemukiman penduduk tergenang air.

“Banjir tidak selamanya mendatangkan kerugian. Jika kita melihat dari sudut pandang kesimbangan ekosistem alam terdapat keuntungan dan kita wajib bersyukur di balik musibah ini agar segera berbenah diri,” kata Calon Wali Kota Bandar Lampung H. Firmansyah Y Alfian, kemarin.

Menurut Firmansyah yang juga Rektor Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya itu, setiap ekosistem memiliki fungsi yang baik untuk menjaga keseimbangan lingkungan. “Kerusakan ekosistem diakibatkan tidak seimbangnya lingkungan. Industri dan kepadatan rumah penduduk mengakibatkan volume sampah meningkat, ditambah kurangnya kesadaran dari masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Hal inilah yang menjadi penyebab banjir,” kata Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Provinsi Lampung itu.

Salah satu cara untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, kata dia, adalah dengan adanya gerakan dari apartur pemerintah, dimulai dari Ketua RT, Ketua Lingkungan, Lurah dan Camat beserta jajarannya. Selain itu, lembaga dan kepemudaan yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup harus Berjamaah (bersama-sama) dengan masyarakat untuk menyisir saluran-saluran air.

“Diharapkan pula adanya edukasi dan mengimbau masyarakat agar membuat lubang resapan air (biopori) yang dibuat secara vertikal kedalam tanah sebagai metode untuk mengatasi genangan air utuk meningkatkan daya resap air kedalam tanah, di lingkungan tempat tinggal mereka masing-masing.

Firmansyah juga menjelaskan dalam penanggulanan banjir diharapkan Dinas Pekerjaan Umum dan Anggota Legislatif meninjau kembali Detail Engineering Design (DED) drainase yang pernah dibuat pada 2007 lalu. “Yaitu, dengan penataan yang dimulai dari hilir (laut) hingga ke hulu. Tujuannya, untuk memastikan bahwa rencana tersebut dijalankan dengan baik, sehingga tidak menimbulkan kerugian daerah hingga miliaran rupiah,” kata dia.

Bang Firman—panggilan akrab Firmansyah—juga menjelaskan dengan padatnya penduduk di kota ini, sudah seharusnya Bandar Lampung menerapkan sistem smart city. Salah satu program dalam sistem smart city ini adalah dalam bidang kebersihan kota, dimana masyarakat tidak hanya mendapatkan edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi masyarakat akan diberikan penghasilan dari limbah rumah tangga.

Menurut dia, setiap rumah tangga memproduksi limbah ada yang berbentuk limbah organik dan limbah nonorganik. Dengan sistem smart city ini masyarkat hanya direpotkan untuk memisahkan limbah organik dan nonoraganik. Nantinya, limbah tersebut akan ditimbang oleh petugas kebersihan dengan menggunakan sistem internet of think (IoT) yang akan diakumulasikan menjadi tabungan poin, yang  dalam penerapannya akan dibangun sebuah aplikasi online. Dimana, aplikasi tersebut dapat menerima pendaftaran dari masing-masing rumah tangga berdasarkan identitas kartu keluarga.

“Tabungan poin ini setelah mencapai standar akan dikonversikan menjadi rupiah yang disesuaikan dengan harga emas per gram. Jumlah tabungan point yang sudah mencukupi, secara otomatis dapat ditukar dan diambil dalam bentuk emas dengan berat minimal lima gram,” kata Bang Firman yang mengusung Program Bandar Lampung Berjamaah.

Sumber : https://lampungklik.com/arsip/2100